Air Zamzam: Keajaiban yang Mengalir Selama Ribuan Tahun, Berawal dari Perjuangan Seorang Ibu

SARANA UMRAH – Bayangkan sebuah lembah yang begitu tandus. Tidak ada pepohonan rindang, tidak ada ladang pertanian, bahkan tidak ada sumber air yang bisa diandalkan. Di tempat seperti itulah seorang ibu ditinggalkan bersama bayinya yang masih kecil.

Tidak ada rumah untuk berlindung. Tidak ada tetangga yang bisa dimintai pertolongan. Hanya ada sedikit bekal makanan dan air yang suatu saat akan habis.

Ibu itu bernama Hajar. Bayinya adalah Ismail, putra Nabi Ibrahim AS.

Siapa yang menyangka bahwa dari peristiwa yang begitu menggetarkan hati tersebut, kelak akan lahir salah satu kisah paling dikenang dalam sejarah Islam? Sebuah sumber air yang dikenal umat Islam di seluruh dunia sebagai Air Zamzam.

Hingga hari ini, jutaan umat Islam yang datang ke Makkah untuk menunaikan ibadah Haji dan Umrah berkesempatan meminum air tersebut.

Namun, tahukah kita bagaimana semuanya bermula?

Sebuah lembah tandus yang kelak menjadi pusat dunia Islam

Jauh sebelum Makkah menjadi kota suci yang dipadati jutaan jamaah, tempat ini digambarkan sebagai sebuah lembah yang tidak memiliki tanaman.

Al-Qur’an mengabadikan doa Nabi Ibrahim AS ketika menempatkan sebagian keturunannya di lembah tersebut.

Allah SWT berfirman dalam Surah Ibrahim ayat 37:

رَبَّنَآ اِنِّيْٓ اَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِيْ بِوَادٍ غَيْرِ ذِيْ زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِۙ

Artinya:

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati.” 

(QS. Ibrahim: 37).

Dalam doa tersebut, Nabi Ibrahim AS memohon agar hati manusia cenderung kepada keluarganya dan agar mereka diberikan rezeki supaya senantiasa bersyukur kepada Allah.

Peristiwa ini memberikan gambaran tentang kondisi lembah Makkah pada masa awal kisah tersebut.

Nabi Ibrahim tidak meninggalkan keluarganya tanpa tujuan. Beliau menjalankan perintah Allah SWT dan menyerahkan urusan mereka kepada-Nya.

Ketika Nabi Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail

Kisah ini diriwayatkan secara panjang dalam hadis Shahih Al-Bukhari nomor 3364, dari Ibnu Abbas RA.

Diceritakan bahwa Nabi Ibrahim AS membawa Hajar dan putranya, Ismail, yang masih bayi menuju sebuah tempat dekat Baitullah.

Pada saat itu, belum ada penduduk yang tinggal di kawasan tersebut dan tidak terdapat sumber air.

Nabi Ibrahim meninggalkan keduanya dengan bekal berupa kurma dan sebuah wadah berisi air.

Setelah itu, beliau beranjak pergi.

Hajar mengikuti Nabi Ibrahim dan bertanya mengapa mereka harus ditinggalkan di lembah yang tidak berpenghuni itu.

Namun Nabi Ibrahim tidak menjawab.

Hajar kembali bertanya, hingga akhirnya mengajukan sebuah pertanyaan yang sangat penting:

“Apakah Allah yang memerintahkanmu melakukan hal ini?”

Nabi Ibrahim menjawab, “Ya.”

Mendengar jawaban tersebut, Hajar berkata:

“Kalau begitu, Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.”

Kemudian Hajar kembali kepada putranya.

Kalimat sederhana tersebut memperlihatkan betapa besar keyakinan Hajar kepada Allah SWT. Di tengah keadaan yang sangat sulit, ia tetap percaya bahwa pertolongan Allah tidak akan meninggalkan hamba-Nya.

Perjuangan Siti Hajar mencari air untuk putranya

Waktu berlalu. Persediaan air yang dibawa Nabi Ibrahim akhirnya habis.

Hajar mulai kehausan. Ismail yang masih bayi juga membutuhkan air.

Sebagai seorang ibu, tentu tidak mudah menyaksikan anaknya kehausan tanpa mengetahui ke mana harus mencari pertolongan.

Hajar kemudian berusaha mencari sumber air atau seseorang yang mungkin bisa membantunya.

Ia menaiki bukit Shafa dan memandang ke arah lembah. Namun tidak terlihat seorang pun.

Ia turun, kemudian bergegas menuju bukit Marwah.

Dari sana, ia kembali memperhatikan keadaan sekelilingnya.

Tidak menemukan pertolongan, Hajar mengulangi perjalanan tersebut.

Tujuh kali ia berjalan dan berlari antara Shafa dan Marwah.

Bayangkan, seorang ibu yang sedang berjuang menyelamatkan anaknya, berjalan bolak-balik di tengah lembah tandus tanpa mengetahui dari mana pertolongan akan datang.

Namun ia tidak berhenti berusaha.

Peristiwa inilah yang menjadi asal-usul ibadah Sa’i, yaitu berjalan dan berlari kecil antara bukit Shafa dan Marwah dalam rangkaian ibadah Haji dan Umrah.

Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa perjalanan Hajar tersebut menjadi asal tradisi Sa’i di antara kedua tempat itu.

Pertolongan Allah datang dari tempat yang tidak disangka

Setelah menyelesaikan perjalanan ketujuh, Hajar mendengar sebuah suara.

Ia kemudian memperhatikan suara tersebut dan mendapati Malaikat di dekat lokasi Zamzam.

Dalam riwayat Shahih Al-Bukhari disebutkan bahwa Malaikat tersebut mengais tanah dengan tumitnya, atau sayapnya sebagaimana terdapat dalam variasi riwayat, hingga air memancar dari tempat tersebut.

Hajar segera mendekati sumber air itu.

Ia berusaha membendung air agar tidak mengalir ke mana-mana, kemudian mengambilnya untuk memenuhi wadah air miliknya.

Air yang muncul tersebut menjadi sumber kehidupan bagi Hajar dan Ismail.

Rasulullah SAW juga menyebutkan keutamaan tindakan Hajar yang berusaha mengumpulkan dan menahan air tersebut.

Betapa luar biasanya peristiwa ini.

Setelah berusaha mencari pertolongan dengan kemampuannya sendiri, Hajar akhirnya mendapatkan pertolongan Allah SWT.

Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa tawakal bukan berarti berhenti berusaha. Hajar telah melakukan ikhtiar semaksimal mungkin, kemudian pertolongan Allah datang dengan cara yang tidak pernah ia bayangkan.

 

Dari sumber air menjadi awal kehidupan Kota Makkah

Munculnya air Zamzam membawa perubahan besar bagi kehidupan di lembah tersebut.

Dalam kelanjutan riwayat Shahih Al-Bukhari, disebutkan bahwa sekelompok orang dari suku Jurhum yang sedang melintasi kawasan itu melihat burung-burung berputar di sekitar lokasi yang memiliki air.

Mereka memahami bahwa keberadaan burung tersebut bisa menjadi tanda adanya sumber air.

Mereka kemudian mendatangi Hajar dan meminta izin untuk tinggal di sekitar tempat tersebut.

Hajar menyetujui kehadiran mereka dengan syarat bahwa mereka tidak memiliki hak kepemilikan atas air tersebut.

Kehadiran suku Jurhum menjadi bagian penting dari perkembangan kawasan Makkah.

Lembah yang sebelumnya tidak berpenghuni perlahan menjadi tempat kehidupan manusia.

Di sinilah kita dapat melihat bagaimana keberadaan Zamzam tidak hanya menjadi pertolongan bagi satu keluarga, tetapi juga berkaitan dengan awal perkembangan permukiman di Makkah.

 

Apa hubungan Air Zamzam dengan ibadah Haji dan Umrah?

Bagi umat Islam, Zamzam bukan sekadar air minum.

Ia memiliki kedudukan khusus dalam sejarah dan tradisi keagamaan Islam.

Ada beberapa hubungan penting antara kisah Zamzam dan ibadah Haji maupun Umrah.

Pertama, mengingat perjuangan Siti Hajar.

Ketika jamaah melaksanakan Sa’i antara Shafa dan Marwah, mereka mengenang perjuangan seorang ibu yang tidak menyerah dalam mencari pertolongan untuk anaknya.

Kedua, mengingat pengorbanan Nabi Ibrahim.

Kisah ini memperlihatkan ketaatan Nabi Ibrahim AS dalam menjalankan perintah Allah SWT dan keyakinannya terhadap pertolongan Allah.

Ketiga, mengingat pentingnya ikhtiar dan tawakal.

Hajar tidak hanya berdiam diri menunggu pertolongan. Ia berusaha mencari air berkali-kali, hingga akhirnya Allah memberikan jalan keluar.

Keempat, mengingat sejarah awal Makkah.

Zamzam merupakan bagian penting dari kisah perkembangan kawasan yang kemudian menjadi pusat ibadah umat Islam.

Ketika seseorang meminum air Zamzam di Masjidil Haram, ia tidak hanya menikmati air yang istimewa bagi umat Islam, tetapi juga dapat mengingat kembali kisah perjuangan, pengorbanan, dan keyakinan kepada Allah SWT.

 

Mengapa Air Zamzam begitu dirindukan umat Islam?

Ada sesuatu yang istimewa dari pengalaman meminum air Zamzam secara langsung di Tanah Suci.

Bagi sebagian jamaah, mungkin itu adalah pertama kalinya mereka merasakan air yang selama ini hanya mereka kenal melalui cerita orang tua, guru mengaji, atau buku-buku sejarah Islam.

Ada yang meminumnya setelah melaksanakan tawaf.

Ada yang meminumnya setelah menyelesaikan Sa’i.

Ada pula yang membawanya pulang untuk keluarga di rumah.

Namun, di balik semua pengalaman tersebut, terdapat sebuah kisah yang seharusnya tidak kita lupakan.

Air Zamzam mengingatkan kita kepada Hajar, seorang ibu yang tetap berjuang ketika keadaan tampak begitu sulit.

Ia tidak mengetahui bagaimana pertolongan akan datang. Ia hanya melakukan apa yang bisa dilakukannya dan tetap yakin kepada Allah.

Kisahnya kemudian diabadikan dalam salah satu rangkaian ibadah Haji dan Umrah yang dilakukan oleh umat Islam hingga sekarang.

 

Penutup: Ada sejarah besar di balik setiap langkah di Tanah Suci

Ketika suatu hari kita berdiri di antara Shafa dan Marwah, mungkin kita akan memandang kedua bukit tersebut dengan perasaan yang berbeda setelah mengetahui kisah Siti Hajar.

Ketika meminum air Zamzam, mungkin kita akan mengingat kembali seorang ibu yang dahulu berjuang mencari air untuk putranya.

Dan ketika memandang Ka’bah, kita akan menyadari bahwa Makkah bukan sekadar tempat tujuan perjalanan ibadah.

Di sana terdapat sejarah panjang tentang pengorbanan para Nabi, keteguhan iman, perjuangan manusia, dan kebesaran Allah SWT.

Semoga Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk mengunjungi Baitullah, menyaksikan langsung tempat-tempat bersejarah tersebut, dan melaksanakan ibadah Haji maupun Umrah dengan penuh keikhlasan.

Karena terkadang, semakin kita mengenal sejarah Tanah Suci, semakin besar pula kerinduan untuk menjadi tamu Allah di sana.

______

Tentang SARANA UMRAH HAJJ

Ingin mengenal lebih dekat Tanah Suci sekaligus mempersiapkan perjalanan ibadah Anda?

SARANA UMRAH HAJJ siap membantu Anda merencanakan perjalanan Umrah dan Haji dengan pendampingan serta informasi yang dibutuhkan. Kantor resmi SARANA UMRAH HAJJ berada di Kota Harapan Indah, Bekasi.

Wujudkan rencana perjalanan ibadah Anda bersama kami.